Lompat ke konten
Home » Negara Yang Mengakui Aceh Merdeka

Negara Yang Mengakui Aceh Merdeka

  • oleh

Negara Yang Mengakui Aceh Merdeka – Pada tahun 1971, perwakilan perusahaan minyak dan gas Amerika, Mobil Oil, dengan senang hati menemukan tambang baru di Arun, Aceh Utara. Segera mereka membangun pabrik baru dan mulai mengekstraksi mineral di sana. Pekerjaan ini berjalan lancar karena mereka bekerja sama dengan militer Indonesia yang pada saat itu merupakan bagian utama dari rezim Orde Baru.

Enam tahun kemudian, terjadi serangan bersenjata yang menghentikan sementara pabrik tersebut. Kabar itu menyebar dengan cepat di ibu kota, Jakarta, setelah seorang insinyur Amerika meninggal dunia dan seorang lainnya luka parah. Peristiwa itu kemudian diidentifikasi sebagai Gerakan Aceh Merdeka (GAM), kelompok bersenjata penentang pemerintah Republik Indonesia di bawah pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro atau dikenal juga dengan Hasan Tiro.

Negara Yang Mengakui Aceh Merdeka

Benih-benih perlawanan di Aceh muncul sejak abad ke-19, ketika daerah itu berubah menjadi kerikil selama upaya Belanda untuk mengepung wilayah jajahan. Diketahui bahwa suku Achen dengan keras kepala mempertahankan tanah leluhur mereka. Mereka adalah salah satu wilayah terakhir yang tunduk pada pemerintahan kolonial, bahkan setelah Perang Tiga Puluh Tahun yang brutal di Aceh (1873-1904).

Sejarah Perlawanan Rakyat Aceh Terhadap Belanda

Ketika Indonesia merdeka, Aceh dimasukkan sebagai salah satu wilayahnya. Masyarakat Aceh telah berjasa besar dalam pembangunan Republik dengan menyumbangkan dana untuk pembelian pesawat Seulawah, pesawat pertama yang dimiliki Indonesia. Namun keputusan Jakarta pada tahun 1950 yang menurunkan status Aceh menjadi kedudukan provinsi Sumatera Utara menimbulkan kekecewaan.

Akibatnya, Teungku Daoud Beureueh, seorang tokoh Aceh terkemuka dan mantan gubernur militer pada masa revolusi, menyatakan perlawanan terhadap Jakarta. Dia kemudian mengaku bergabung dengan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan H.M. Kartosuviryo.

Padahal, sebelum Daud Beureueh memprovokasi perlawanan, dia adalah pendukung kemerdekaan Indonesia. Pada akhir tahun 1945, terjadi konflik antara pendukung Indonesia dan pendukung Belanda. Pendeta (

), yang pro-Belanda. Konflik ini memicu revolusi sosial yang dikenal sebagai Perang Kumbok, dan Teungku menang.

Membumikan Pancasila Masih Jadi Pr Negara

Faktor-faktor ini menambah frustrasi Berueh dan memperkuat keyakinannya untuk bertarung. Tentu saja DI/TII Aceh berhasil menjinakkan pemerintah pada tahun 1962, namun kobaran konflik tak kunjung padam.

Kemudian Presiden Sukarno memberikan Aceh status daerah khusus untuk menekan perlawanan. Dengan status tersebut Aceh berhak mengatur agama, hukum adat dan hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan.

Hasan Tiro terus melawan. Daoud Beureueh Daoud Beureueh masih terlibat dalam gerakan gerilya hingga awal tahun 1962, namun estafet perlawanan lainnya dimulai oleh Hassan Tiro. Ia tinggal di New York sejak awal 1950-an dan bekerja di kantor PBB di Departemen Khusus Urusan Indonesia. Pada tahun 1953, Tiro yang sangat menyukai Coca-Cola kembali ke Aceh untuk mendukung perjuangan Daoud Berueh. Dan pada pertengahan 1970-an, dia semakin mengkonsolidasikan rekan-rekan seperjuangannya.

READ  Cara Daftar Tiktok Dapat Uang

Tepat 41 tahun lalu, tepatnya 4 Desember 1976, GAM resmi berdiri. Hasan Tiro memprotes pemerintah Indonesia di Perbukitan Halinon, Pidi, menyebut dirinya sendiri

Presiden Jokowi: Indonesia Siap Fasilitasi Rekonsiliasi Semua Faksi Yang Ada Di Palestina

(Presiden). Visinya adalah romansa masa lalu, ketika Aceh adalah negara merdeka. Ia dengan tegas menyatakan bahwa telah terjadi “perpindahan kedaulatan atas tanah leluhur secara tidak sah dari Belanda sebagai penjajah lama kepada orang Jawa sebagai penjajah baru”.

Romantisme ini terutama mengacu pada masa kejayaan kerajaan Aceh pada masa Iskandar Muda. Dalam Kerajaan Aceh pada Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636) (2008), sejarawan Denys Lombard menunjukkan betapa makmurnya Aceh saat itu. Padahal, Aceh merupakan salah satu kerajaan Asia pertama yang memiliki hubungan diplomatik dengan Kerajaan Belanda. Saat-saat indah itu dikenang dengan nostalgia. Namun di sisi lain, seperti yang ditunjukkan oleh Otto Syamsuddin Ishak dalam Aceh Pasca-Konflik: Menghadapi Tiga Pilihan Nasionalisme (2013), masyarakat Aceh getir melihat realitas terkini di Aceh. Romansa kejayaan masa lalu hadir bersamaan dengan pengalaman pahit dalam penyelesaian konflik yang berlarut-larut yang hanya diselingi oleh jeda-jeda yang relatif singkat.

(2005) menulis bahwa salah satu motivasi utama Hasan Tiro saat perang gerilya dengan GAM adalah persoalan kedaulatan atas sumber daya alam Aceh. Ini juga berfungsi sebagai strategi untuk menarik dukungan massa.

Dalam pernyataan perlawanannya, Tire mengatakan Aceh dimiskinkan di bawah penjajahan Indonesia karena rata-rata harapan hidup adalah 34 tahun dan terus menurun. Ia juga mengkritik Jakarta yang tidak tahu berterima kasih karena menerima pendapatan besar dari eksploitasi gas alam di Aceh sejak kemerdekaan. Dikatakan bernilai $ 15 miliar per tahun, yang dikritik Tiro untuk pengembangan Java saja.

Transformasi Gerakan Aceh Merdeka

Dengan menggunakan metode pengecekan fakta, Ross menjelaskan bahwa apa yang dikatakan Tiro tentang harapan hidup dan keuntungan $15 miliar adalah tidak benar. Namun, ia tertarik dengan strategi Tire menarik dukungan dari massa, yang tidak menyebutkan bahwa Aceh didasarkan pada politik Islam, sebuah isu yang menyulut perlawanan Daoud Beureueh.

Menurut Ross, Thiro khawatir isu ISIS akan membuat GAM kehilangan dukungan internasional. Sejarah menunjukkan bahwa hampir tidak ada gerakan separatis yang tidak mendapat dukungan dari luar negeri. Sebaliknya, Teer berfokus pada status Aceh sebagai penghasil gas alam terbesar di Indonesia. Misalnya, ada tambang gas di dekat kota Lokseumave yang menghasilkan keuntungan hingga 2-3 miliar dolar setahun untuk ekspor selama 20-30 tahun.

Mobil Oil yang bergabung dengan Exxon Mobil Corporation pada tahun 1999 menjalin kemitraan bisnis dengan Pertamina dan Jilco (konsorsium Jepang). Produksi yang dimulai pada tahun 1977, mencapai puncaknya pada tahun 1988, kata Dawood, Dayan dan Syafrizal dalam laporan berjudul “Aceh: The LNG Boom and Enclave Development” dalam buku Unity and Diversity: Regional Economic Development in Indonesia Since 1970 ( 1989).

READ  Cara Masuk Kode Voucher Axis

Meski berhasil menciptakan lapangan kerja baru, banyak warga Aceh yang menilai proyek ekstraksi gas alam oleh perusahaan asing dan negara tidak cukup untuk menyediakan lapangan kerja, apalagi menjamin kesejahteraan penduduk setempat. Mobil Oil juga merekrut lebih banyak orang dari luar Aceh, terutama dari Jawa, berdasarkan keahlian dan pengalaman yang lebih banyak.

Kelompok Separatis Papua Barat Ancam Tembak Mati Siapapun Yang Mencoba Ambil Jasad Pekerja Trans Papua Barat

Hassan Tiro secara pribadi mengalami bagaimana ia tersingkir dari perebutan produksi gas bumi. Menurut Ross, pada tahun 1974 Tire ikut serta dalam lelang proyek pembangunan pipa gas di Aceh, namun kalah dari perusahaan Amerika Bechtel (hlm. 41). Dugaan yang kemudian berkembang adalah ketidaksetujuan tender tersebut yang berujung pada penyerangan pertama GAM terhadap pabrik Mobil Oil di Arun pada tahun 1977. Hal ini dibantah oleh Murizal Hamzah dalam Hasan Tiro: Jalan Panjang Menuju Damai di Aceh (2014). Bibit perlawanan Tira, kata dia, sudah tumbuh sejak tahun 1960. Namun, penyerangan inilah yang memicu perlawanan dari pemerintah Indonesia. Jakarta menilai investasinya di Aceh akan terganggu dengan kehadiran GAM. Tirus dan para pengikutnya tentu saja bukan musuh seperti itu, kalah jumlah dan kalah senjata. Banyak anggota GAM yang tewas, warga sipil yang dituduh mendukung GAM juga menjadi korban, dan Tire terpaksa mengungsi ke luar negeri pada 1979. Gelombang pertama perlawanan dari GAM, menurut Michael L. Ross, akhirnya usai.

Resistensi sengit Gelombang kedua terjadi pada pertengahan 1980-an. Personel GAM yang kembali dari pengasingan merekrut anggota baru untuk menjalani pelatihan militer seperti yang mereka jalani di luar negeri. Beberapa dilatih oleh tentara Libya. Negara sosialis di bawah Muammar Gaddafi, serta Iran dan negara serta lembaga donor lainnya, membantu membiayai dan mempersenjatai GAM dalam gelombang perlawanan kedua ini. GAM juga terlihat semakin kuat di kubu gerilya.

Kirsten E. Schulze, dalam bukunya Gerakan Aceh Merdeka (GAM): Anatomi Organisasi Separatis (2004), berpendapat bahwa sejak tahun 1986 GAM semakin memperluas dukungannya ke utara dan timur. Perekrutan relatif mudah di kedua wilayah tersebut, terutama bagi masyarakat Aceh yang tinggal di wilayah dengan ketimpangan ekonomi yang tinggi akibat urbanisasi imigran (dari Jawa) dan industrialisasi yang merajalela.

Pada titik ini, staf GAM sekali lagi menyerukan rasa kedaulatan atas sumber daya alam. Mereka menyebarkan propaganda bahwa gas alam dan kekayaan Tanah Rencheng lainnya sedang dikembangkan di depan penduduk asli, yang tidak mendapatkan apa-apa dan tetap miskin, sedangkan pendatang menjadi kaya. Propaganda ini terbukti efektif dan perekrutan berhasil dengan baik, terutama bagi laki-laki di pedesaan. Perlawanan pemerintah Indonesia selama gelombang kedua bahkan lebih berdarah. Pada pertengahan 1990-an, antara 200 dan 750 pejuang GAM menghadapi tentara Indonesia yang jauh lebih besar. Pemerintah Indonesia juga telah menetapkan Aceh sebagai zona operasi militer (DOM) dan mengerahkan pasukan khusus antiteror.

READ  Barang Yang Paling Diminati Di Online Shop 2020

Turki, Negara Mayoritas Muslim Pertama Yang Mengakui Israel

Eskalasi konflik semakin intensif, selain menyebabkan lebih banyak cedera, pengungsian, dan kematian dibandingkan selama gelombang pertama perlawanan. Bagian yang paling menyedihkan adalah warga sipil, yang disebut pengkhianat oleh kedua pihak yang bertikai. Menurut berbagai sumber, jumlah korban tewas bervariasi dari 2.000 hingga 10.000, baik di kalangan milisi maupun warga sipil.

Korban sipil lebih tinggi karena kedua belah pihak yang berkonflik telah melakukan serangkaian tindakan kekerasan dan pelanggaran HAM. Menurut laporan Amnesty International, militer Indonesia diduga melakukan pembunuhan di luar hukum, membakar desa, menculik, memperkosa, dan menyiksa warga Aceh yang dituduh sebagai pendukung GAM. Sementara itu, anggota GAM dituduh melakukan pembunuhan di luar hukum terhadap tersangka informan militer Indonesia dan penyerangan terhadap institusi sipil seperti sekolah dan lainnya.

Kekerasan militer Indonesia kemudian dilawan dengan munculnya gelombang perlawanan ketiga yang, seperti dijelaskan oleh Michael L. Ross, terjadi setelah jatuhnya Suharto. Presiden Habibi menarik pasukannya dari Aceh untuk memenuhi komitmennya terhadap amanat reformasi. Namun, GAM memanfaatkan situasi ini untuk mengkonsolidasikan kekuatan yang tersisa. Mereka merekrut pemuda Aceh dengan menggunakan narasi brutal tentang perilaku militer Indonesia selama penerapan DOM di Aceh.

Pada akhir 1999, GAM menghidupkan kembali kekerasan di Aceh, menyerang pejabat pemerintah daerah dan pendatang dari Jawa. Modal gerilya diperoleh dengan menyelundupkan senjata ilegal dari Thailand.

Gerakan Aceh Merdeka

Pemerintah Indonesia kembali mengirimkan pasukan lebih banyak lagi ke Aceh, terutama pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Tahun 2001-2002, gabungan TNI dan Polri di Aceh

Negara pertama yang mengakui kemerdekaan indonesia, negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan indonesia, negara yang mengakui kemerdekaan indonesia, negara yang mengakui indonesia merdeka, negara aceh merdeka, negara yang tidak mengakui israel, negara yang mengakui taiwan, negara yang mengakui kedaulatan, aceh merdeka, negara yang pertama kali mengakui indonesia merdeka, daftar negara yang mengakui kemerdekaan indonesia, negara pertama yang mengakui indonesia merdeka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *